PANRITAKITTA' - Membaca novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu ini seperti sedang memandang cermin, beberapa potong ceritanya seolah membaca penggalan kisah hidup sendiri. Novel ini mengisahkan dua orang insan yang berusaha melompat dari dalam jurang kemiskinan menuju kehidupan yang lebih baik.
Penulis cukup piawai memainkan perasaan pembaca. Di beberapa plotnya mata saya dibuat berkaca-kaca dan sedikit menghela nafas berat dibebani keharuan. Pada lelembar yang lain, saya dibuat terkekeh cukup berisik sampai ditegur sang istri yang sedang berusaha menidurkan putra-putri kami.
Kisah kedua orang tokoh dalam novel ini sangat dekat dengan kehidupan generasi sandwich saat ini yang merasa terjepit, di satu sisi mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap keluarga sendiri, dan di sisi lain mereka tetap berusaha mengangkat derajat kedua orang tua dan saudara-saudaranya.
Novel ini cukup kompleks karena menceritakan dua tokoh sekaligus sejak kecil hingga menua bersama hanya dalam 200-an halaman, tetapi lompatan ceritanya begitu halus, sehingga pembaca tetap bisa menemukan ritme kisahnya.
Cara menulis J.S. Khairen cukup ringan, dengan riak-riak puisi yang mendayu-dayu dan atmosfer nilai sosial budaya Sumatera Barat yang kental, tidak hanya sebagai tempelan semata melainkan hidup dalam cerita.
Zenna adalah perempuan tegar dari kaki gubung Singgalang dan Asrul laki-laki kreatif dari kaki gunung Merapi. Keduanya memiliki latar belakang yang sama, sama-sama miskin!
Zenna, anak keempat dari sebelas orang bersaudara, menjadi yatim sejak remaja. Sedangkan Asrul, anak pertama dari tiga orang bersaudara dari istri pertama, saudara kandung lainnya tidak terhitung dari ibu-ibu tirinya.
Keduanya dipertemukan di kampus IKIP Padang setelah drama kesulitan mencari biaya kuliah. Zenna terpaksa menjadi pandai emas yang biasanya dikerjakan laki-laki, sedangkan Asrul membantu ayahnya berdagang dan menjadi wartawan amatir.
Setelah menyelesaikan kuliah, Zenna tak lagi menjadi pandai besi tetapi menjadi penjaja penganan dan penjaga toko sepatu. Asrul masih tetap menjadi wartawan meskipun sudah semakin mahir.
Kisah Zenna yang memakai sepatu butut dan dompet Asrul yang disisipi potongan koran tulisan pertamanya merupakan bagian cerita yang paling ikonik. Kedua benda itu merekam kisah hidup mereka. Sepatu butut ke sepatu baru dan kesetian Asrul pada dompetnya merupakan simbolisme perjuangan hidup mereka.
Langkah Zenna dengan sepatu bututnya mencerminkan kegigihan dalam menjalani kehidupan yang keras dan bagaimana dia berusaha melompat melewati garis kemiskinan, sedangkan dompet asrul bentuk tanggung jawab seorang suami sekaligus anak pertama yang bahunya masih tempat bersandar ibu dan adiknya.
Bahkan setelah mereka menikah, masalahnya tidak selesai, justru semakin rumit. Keduanya harus mengurus buah hatinya, di samping itu mereka tetap “berkewajiban” secara moril membantu orang tua masing-masing.
Zenna masih memiliki Ibu dan 7 orang adik yang masih sangat membutuhkan uluran tangan, Asrul masih menyimpan janji sejak kecil kepada ibunya, yakni membangunkan rumah dan memberangkatkan ibunya naik haji. Di sisi lain keluarga kecil mereka masih perlu dibangun, masih butuh rumah, tanah dan kendaraan sendiri.
Bahkan ketika keduanya sudah memiliki pekerjaan yang cukup matang, mereka tetap belum bisa “melompat” apalagi sembari menggendong orang lain. Situasi bertambah rumit ketika Zenna akhirnya mengandung anak kedua, biaya hidup bertambah mahal bahkan keduanya membuka opsi “memulangkan” kedua orang tua dan adik-adik mereka yang menumpang hidup.
Namun pada akhirnya, mereka dapat melewati fase paling kritis dalam kehidupan keluarganya. Zenna berhasil membantu adik-adiknya meniti kehidupan lebih baik dan Asrul menunaikan janjinya kepada ibunya. Hingga akhirnya mereka menua, melihat anak-anak dan cucu-cucu mereka sukses.
Ibarat sebuah camilan, novel ini amat renyah didaras bersama segelas kopi. J.S. Khairen berhasil membuat anda membaca satu siklus kehidupan sesederhana menghabiskan seporsi kudapan, ringan tetapi sarat makna, ringkas tapi tetap dinamis. Selamat membaca!
Judul: Dompet Ayah, Sepatu Ibu | Penulis: J.S. Khairen | Penerbit: Grasindo | Cetakan: Keempat Puluh Enam, Januari 2026 | Jumlah Halaman: vi + 216 | ISBN: 978-602-05-3022-2
Isbawahyudin. Pengasuh di Sindikasi Pena Hijau. Berkhidmat sebagai guru madrasah di Bantaeng.

Posting Komentar