Ayna Mardeya, Sebenar-benarnya Ainul Mardhiyah


Mengisi akhir pekan setelah libur hari raya idul adha, kembali aku menghadapi bacaan renyah, tak setebal Aroma Karsa, tapi lumayan menghibur. Judulnya Bidadari Bermata Bening, buah karya Habiburrahman El Shirazy yang lebih populer dengan sapaan Kang Abik. Penulis yang sebelumnya telah menghadirkan buku-buku best seller seperti Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.

Di beberapa bab awal, Kang Abik mengantar kita untuk menikmati suasana kehidupan pesantren yang memadukan manajemen pendidikan modern dengan pendidikan pesantren salaf yang fokus pada pendalaman kitab kuning. Kang Abik mengajak kita memahami itu semua sebagai latar cerita yang membalut kisah seorang santriwati yang menjadi tokoh utama cerita –Ayna Mardeya.

Ayna, seorang gadis keturunan campuran dari ayah Arab-Palestina dan ibu Jawa, adalah yatim piatu yang dititip oleh ibunya di pesantren Kanzul Ulum yang disebut-sebut sebagai salah satu pesantren tua di Magelang, tepatnya di pinggiran kampung Secang, Desa Candiretno. Ibunya yang bernama Istiqomah menjadi TKW di Amman Yordania, lalu diboyong oleh tuannya –Abdullah Jalal– ke Swedia karena melanjutkan S3 di Uppsala University.

Karena istri Tuan Abdullah –Jihan Afifi– menderita kanker dan divonis tak akan berumur panjang, maka Nyonya Jihan menyarankan Tuan Abdullah menikahi Istiqomah. Akhirnya mereka mengucap akad nikah di KBRI Stockholm, dan walimah di Masjid Stockholm. Lima bulan kemudian, Nyonya Jihan wafat, meninggalkan seorang anak mungil bernama Ameera. Karena ditinggal istri, Tuan Jalal menyusul beberapa bulan kemudian, saat itu Ayna masih dalam kandungan.

Istiqomah lalu membawa Ameera pulang ke Amman dan menyerahkannya ke keluarga Nyonya Jihan, dan ia sendiri memilih kembali ke Indonesia bersama kandungannya yang berumur 3 bulan. Melahirkan dan lalu membesarka Ayna di Indonesia, sampai meninggal tak lama setelah Ayna mulai menjalani hari-harinya di pesantren. Sejak itu, keluarga satu-satunya yang tersisa adalah Pakde Darsun –saudara seibu dari ibu kandungnya.

Karena tak mendapat dukungan keluarga, untuk menghidupi dirinya, Ayna nyambi menjadi pembantu perempuan –khadimah di pondok. Karena kesibukannya sebagai khadimah, Ayna tidak terlalu fokus untuk mengejar prestasi akademik selama mondok, nilainya biasa-biasa saja. Dia justru lebih serius membantu Bu Nyai Nur Fauziyah (istri dari pimpinan pondok, Kyai Sobron Ahsan Muslim) melayani kebutuhan makan minum santriwati, serta kebutuhan rumah tangga Pak Kyai Sobron dan Bu Nyai Nur beserta anak-anaknya.

Beruntung, 2 (dua) bulan jelang Ujian Nasional (UN), Ayna mendapatkan izin dari Bu Nyai Nur untuk fokus belajar, dan ini membuahkan hasil yang indah. Ayna menjadi peraih nilai tertinggi hasil UN di pesantren Kanzul Ulum, bahkan seJawa Tengah, dan masuk sepuluh beasr nilai UN secara nasional. Prestasi yang membuat nama Ayna bersinar dan mendapatkan perhatian dari banyak kalangan, termasuk putra bungsu Pak Kyai –Muhammad Afifuddin.

Tapi malangnya, prestasi Ayna malah tak dapat tanggapan positif dari Pakde Darsun dan keluarga, kecuali sepupunya –Atikah, yang semringah karena prestasi tersebut. Bahkan, saat puncak perayaan Haflah Akhirussanah –penamatan ala Pondok Pesantren Kanzul Ulum, tak ada keluarganya yang datang. Pakde Darsun memilih pergi memancing, Bude Mijah berkilah malas melakukan perjalanan jauh.

Kang Abik lalu membawa Ayna ke konflik yang lebih tajam ketika sebuah lamaran datang dari seorang kerabat Nyai Nur –Kyai Yusuf Badrudduja namanya. Setelah istikharah, Ayna mantap menerima lamaran tersebut, tinggal meminta persetujuan Pakde Darsun sebagai walinya. Hal itu membuat Ayna harus pulang ke kampungnya di Desa Kaliwenang, Kecamatan Tanggulharjo, Kabupaten Grobogan.

Pakde Darsun menolak lamaran Kyai Yusuf, bahkan saat Kyai Sobron dan Nyai Nur yang datang langsung menyampaikan lamaran. Rupanya Pakde Darsun telah menyusun konspirasi untuk menjodohkan Ayna dengan seorang anggota DPRD bernama Haryo Bagus Karloto alias Yoyok, dengan imbalan dirinya didukung modal untuk menjadi kepala desa.

Saat mengetahui bahwa Ayna menolak lamaran Kyai Yusuf, dengan menggunakan alasan mengatar undangan pernikahan Kyai Yusuf yang akhirnya menikah dengan Indah Nur Adillah –teman pondok Ayna, Afif menemui Ayna dan menyatakan bahwa bila Ayna bersedia, ia akan meminta Kyai Sobron dan Nyai Nur untuk melamarnya. Permintaan tersebut disetujui oleh Ayna, dan penatian itupun dimulai.

Rupanya, takdir bekata lain. Hingga pertemuan mereka di walimah Kyai Yusuf dan Indah, baik Kyai Sobron, Nyai Nur, maupun Afif tak pernah menyinggung sedikitpun soal lamaran tersebut. Hingga tiba waktunya, Yoyok datang menyampaikan lamaran yang diterima oleh Pakde Darsun, dan tak memberi kesempatan kepada Ayna untuk menolak.

Mendengar informasi tersebut, Afif menderita tekanan jiwa dan membuatnya malas makan, hingga kondisi fisik dan kesehatannya menurun drastis. Beruntung, kedatangan Ayna yang menasehati dan menguatkannya, membuat Afif kembali bersemangat menjalani hidup, bahkan minta agat Kyai Sobron mengajarinya kitab Risalatul Mustarsyidin karya Imam Harist Al Muhasibi, seorang murid Imam Junaid Al Baghdadi.

Setelah menuntaskan pelajaran kitabnya, Afif lalu meninggalkan Pondok Pesantren Kanzul Ulum, memulai perjalanan spiritual sebagaimana jalan yang ditempuh oleh Imam Harist Al Muhasibi, dahulu. Sementara itu, keluarga Ayna dilanda prahara berupa suami, mertua, dan Pakde Darsun didakwa korupsi. Untuk menyelesaikan masalah, Ayna lalu diceraikan oleh Yoyok dan dijadikan gratifikasi seks untuk seorang hakim, yang ternyata khianat.

Untuk menyelamatkan diri, Ayna lari meninggalkan kampung dan memulai perjalanan hidupnya yang lebih cadas. Apakah Ayna akan tetap bersinar di pelariannya, seperti bidadari surga tercantik yang menanti para syuhada sesuai makna namanya: Ainul Mardhiyah. Lalu bagaimana perjalanan cintanya dengan Afif yang menempuh jalan suluk untuk menenangkan jiwanya?

Apakah mereka akan bertaut jalan, berjumpa dan mengukir akhir kisah bahagia, atau mereka akan menyusuri jalan dan menyulam bahagianya masing-masing? Kang Abik menyusun kisah ini dengan letupan-letupan tak terduga, sentuhan dialog yang menenteramkan jiwa dan memberi begitu banyak nuansa penyejuk jiwa bagi pembaca. Meski kesalahan ketik kadang hadir di beberapa bagian.

Sebagai sosok fisik yang jelita, badan tinggi semampai dan mata jeli bermata bening layaknya orang Arab, dipadu dengan kelembutan raut muka turun dari ibunya yang Jawa, disempurnakan oleh kealiman ala pondok dan kecerdasan akademik, tentu banyak lelaki yang mengidamkannya. Ada Kyai Yusuf, Gus Afif, Yoyok, dan entah siapa yang nanti akan berhasil mempersunting tatapan mata yang diridai itu.

Bila hati anda dibelasah tanya dan rasa penasaran akan akhir cerita, tak ada salahnya membaca novel ini, meski terbit hampir satu dekade lalu, tapi isinya masih tetap relevan, dan sesuai dengan anak judulnya: Sebuah Novel Pembangun Jiwa, kisah Ayna dan Afif benar-benar memberi pondasi yang kukuh bagi jiwa yang rapuh. Selamat membaca!

Judul: Bidadari Bermata Bening | Penulis: Habiburrahman El Shirazy | Penerbit: Republika | Cetakan: Ketiga, Mei 2017 | Jumlah Halaman: iv + 337 | ISBN: 978 602 082 264 8

Kasman McTutu, CEO bukukita.net

Posting Komentar

Komentar Anda (0)

Lebih baru Lebih lama