PANRITAKITTA' - Telah berbilang tahun, aku tak melakoni aktivitas membaca secara serius, dalam artian membaca sampai tuntas. Aroma Karsa kembali membetotku ke kebiasaan itu, setidaknya akhir pekan ini. Kupegang novel setebal xiv + 710 anggitan Dee Lestari ini sejak pagi dan kuselesaikan kalimat terakhir saat jarum jam menunjukkan pukul satu dinihari lewat beberapa menit.
Salah satu yang membuatku betah adalah nama Dee, ia menjadi jaminan akan kualitas cerita ini. Aku membaca Dee sejak Supernova yang enam seri itu, lalu Filosofi Kopi, Madre, Perahu Kertas, dan juga Rectoverso. Supernova, khususnya seri Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh membuatku merasa rugi bila melewatkan karya penulis ini.
Beberapa bab awal Aroma Karsa, terutama dialog-dialog intim Raras Widyani Prayagung dan eyang putrinya, Janirah Prayagung tentang pencarian akan sesuatu atau mungkin seseorang yang bernama Puspa Karsa, membuatku mengingat pencarian Ben dan Jody (dalam Filosofi Kopi) akan citarasa kopi yang sempurna si pelosok Jawa Tengah, hingga berjumpa dengan kopi tiwus Pak Seno.
Meski novel ini mengelaborasi soal indera penciuman yang merupakan indera manusia yang pertama kali berkembang dan berfungsi saat seseorang masih bayi, tetapi sejak awal, kelindan cerita dirajut dengan apik oleh sulur panjang hasrat kuasa yang ditanam dengan kukuk oleh Janirah dibenak cucunya, Raras.
Konon, Janirah yang mengklaim diri sebagai pencuri, telah membawa keluar dan menyimpan untuk dirinya sendiri sebuah kotak besi dari perbendaharaan rahasia dari Keraton Yogyakarta. Kota yang berisi lontar-lontar bertulisan kuno, dan tiga tube perunggu berisi cairan, entah apa.
Untuk membaca lontar-lontar itu, Janirah yang anak abdi dalem punakawan jenjang terendah di keraton, mencuri-curi belajar dari guru privat yang datang untuk mengajar anak-anak ningrat di keraton. Janirah perlahan bisa mengeja rangkaian aksara hanacaraka, walau terbata-bata.
Setelah berbilang bulan, Janirah berhasil memecahkan misteri tube perunggu yang adalah dalam kotak besi curiannya. Ia menuntaskan membaca sebuah catatan ringkas di antara lontar-tontar itu. Bunyinya begini: Porsi pertama akan mengubah nasibmu // Porsi kedua akan mengubah nasib keturunanmu // Porsi ketiga akan mengubah dunia sebagaimana keinginanmu.
Kalimat-kalimat itu, seumpama mantra yang menahbiskan Janirah untuk menjadi pewaris cairan-cairan rahasia dalam tiga tube tembaga yang menjadi pemicu meletupnya hasrat kuasa: kehendak menguasai, mengendalikan, serta mengubah nasib diri, keluarga, dan bahkan dunia.
Janirah mengubah nasibnya dengan mengoleskan isi tube pertama, yang diyakini berisi cairan ekstrak Puspa Karsa. Ia yang anak abdi dalem melejit menjadi seorang pengusaha produk kecantikan berbasis tradisi lokal dan resep rahasia keraton, melalui perusahaan yang dirintisnya, Kemara. Meski sayang, anaknya yang lalu menjadi Romo dari Raras tak mampu menjaga kejayaan itu.
Beruntung, Raras yang memang sejak muda menjadi tumpuan harapan eyang putrinya, setelah menggunakan isi tube perunggu kedua, Raras mampu membesarkan kembali Kemara, bahkan memindahkannya dari Yogyakarta ke Jakarta dan menjadikan Kemara sebagai perusahaan kosmetik tertua dan tersukses di Indonesia.
Tak hanya itu, Raras terus menjaga pesan Janirah untuk mencari Puspa Karsa, pencarian yang lalu merenggut fungsi kedua kakinya dalam ekspedisi menelusuri Puspa Karsa yang diyakininya berada di Gunung Lawu. Keyakinan yang dibangun sebagai hasil pengungkapan isi lontar-lontar curian eyangnya oleh seorang arkeolog, Profesor Sudjatmiko.
Profesor Miko melakukan komparasi antara isi lontar-lontar Janirah dengan narasi di Prasarti Planggatan. Menurutnya, meski ada kisah yang berbeda, tetapi ada hal yang menyatukan keduanya; informasi tentang Puspa Karsa. Keduanya membuat Prof. Miko dan juga Janirah yang lalu diteruskan oleh Rasras bahwa Puspa Karsa memang ada.
Selain berhasil membuat Raras kesulitan berjalan dan beberapa orang anggota tim ekspedisi meninggal, ekspedisi Lawu pertama juga berhasil memboyong empat orang yang merupakan penduduk asli Alas Kalingga, tempat tersembunyi di Gunung Lawu dan diyakini sebagai tempat menyembunyikan Puspa Karsa.
Keempat orang dari Alas Kalingga (tepatnya Desa Dwarapala, desa para penjaga Puspa Karsa) itu adalah sepasang suami istri, Anung dan Ambrik serta bayinya, Malini, ditambah seorang pengawal berkemampuan khusus atau Wong Banaspati bernama Randu. Randu ditugaskan khusus untuk menjaga ketiga orang yang lain.
Bagi warga Alas Kalingga yang dipimpin oleh Empu Smarakandi, Ambrik diyakini sebagai perempuan pilihan yang memenuhi syarat menjadi wadah bagi menitisnya Puspa Karsa yang berwujud bunga ke dunia manusia. Maka melepaskan Ambrik keluar tanpa pengawasan sama saja memuluskan Puspa Karsa keluar dan mempengaruhi bahkan menguasai dunia.
Anung bertugas untuk melakukan proses Girah Rudira terhadap Ambrik, meneteskan darah hingga kering dengan pisau khusus dari Empu Smarakandi. Upacara itu dilakukan tepat saat waktu Puspa Karsa akan menipis. Randu, bertugas memastikan prosesi Girah Rudira berhasil dilaksanakan. Kejadian itulah yang membuat Anung lalu dipenjara dengan tuduhan membunuh istri sendiri.
Bayi Malini lalu dibesarkan oleh Raras dengan nama Tanaya Suma, sedangkan Randu yang ketika keluar ke dunia manusia, juga berwujud bayi, diambil oleh seorang penadah barang bekas di Bantar Gebang, bernama Nurdin, yang menamainya Jati Wesi. Seorang mantan karyawan Kemara yang merupakan orang dekat Raras, Khalil Batarfi mengawasi hingga Jati dewasa.
Tanaya Suma dan Jati Wesi tumbuh menjadi manusia dewasa dengan kemampuan penciuman di atas rata-rata manusia. Kemampuan penciuman yang sangat peka, penciuman yang bisa membaui aroma karsa, aroma khas dari Puspa Karsa. Dan Raras mengetahui itu, maka Suma dan Jati adalah senjata pamungkasnya untuk melacak Puspa Karsa.
Ketajaman penciuman Suma yang dioptimalkan dengan keterlibatannya dalam peracikan parfum di Kemara, pun ketelitian penciuman Jati yang terbentuk secara alami di Bantar Gebang lalu juga terlibat dalam dunia parfum, adalah pelatihan bagi mereka sebelum dilibatkan dalam perburuan Puspa Karsa.
Dengan memanfaatkan kemampuan khusus Suma dan Jati untuk mengendus aroma karsa, dipandu oleh Profesor Yustinus Herlambang alias Prof. Lambang, murid dari Prof. Miko, Raras menggagas ekspedisi kedua untuk menelusuri Puspa Karsa. Tim ekspedisi membuat persiapan yang lebih matang dari tim ekspedisi pertama.
Persaingan Suma dan Jati dalam dinamika pembuatan parfum, lalu berlanjut dengan petualangan mereka berdua di Alas Kalingga, membuat novel ini memicu adrenalin untuk membacanya hingga tuntas. Memasuki Alas Kalingga seumpama memasuki dunia paralel yang hanya bisa diakses oleh manusia berkemampuan khusus dan seizin Empu Smarakandi, penjaga abadi Puspa Karsa.
Perjumpaan Jati dengan Puspa Karsa di saat bunga itu memasuki waktu yang pas untuk menitis, serta Suma yang ternyata mewarisi ibunya sebagai perempuan pilihan yang memenuhi syarat menjadi wadah bagi menitisnya Puspa Karsa, penuh dengan titik bifurkasi yang mengoyak emosi pembaca.
Dan berbeda dengan Filosofi Kopi yang sampai pada kesimpulan tegas bahwa racikan kopi yang sempurna justru terletak pada kesederhanaan dan ketidaksempurnaan, yang direpresentasikan oleh kopi tiwus ala Pak Seno. Atau Kedai Koffie Ben & Jody menyebut filosofi kopi tiwus begini: Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.
Sedangkan di Aroma Karsa, Dee membawa pembaca pada kebimbangan dan berbagai pertanyaan, serupa kuis bagi sidang pembaca. Pertanyaan-pertanyaan yang membuka arah baru dan kesimpulan berbeda saat membaca bab-bab akhir buku ini.
Apakah Puspa Karsa berhasil menitis ke dalam Suma? Apakah Raras dibunuh oleh Suma atau Puspa Karya yang menitis? Apakah Jati adalah titisan Mahesa Guning? Apakah Jati akan mengembalikan Puspa Karsa ke Alas Kalingga, atau justru menemaninya menjangkau dunia terjauh?
Entahlah!
Judul: Aroma Karsa | Penulis: Dee Lestari | Penerbit: Bentang | Cetakan: Pertama, Maret 2018 | Jumlah Halaman: xiv + 710 | ISBN: 978 602 291 463 1
Kasman McTutu, CEO bukukita.net

Posting Komentar