Catatan Perjalanan Muhammad Amir Jaya


R
ESENSI, PANRITAKITTA’ - Pernah mendengar nama bukit Marconi? Tempat ini terasa begitu asing di telinga, padahal bukit yang terletak di tengah kota Tarakan, menyimpan sejarah yang menjadi jejak kelam penjajahan Nippon atas negeri ini. Ya, di bukit inilah tertimbun ratusan bahkan mungkin ratusan jasad tentara Jepang era Perang Dunia II.

 

Informasi tersebut dipaparkan dengan apik oleh Muhammad Amir Jaya dalam cerita pendeknya yang berjudul Penjaga Malam (h.24). Bila tak ada cerpen itu, mungkin saja seumur hidup aku tak akan pernah mengetahui bahwa tempat itu ada, padahal menurut Amir Jaya, bukit itu banyak dikunjungi peziarah sepanjang tahun.

 

Penjaga Malam menjadi salah satu cerita yang disajikan oleh Amir Jaya dalam kumpulan cerpennya yang bertajuk Puisi Sepi Di Kampung Bugis Dalam, bersama 19 cerpen lainnya dalam buku setebal 117 halaman. Buku ini menegaskan posisi Amir Jaya sebagai seorang pencerita yang menarik dan pejalan yang telaten mencatat.

 

Mengapa demikian? Sebab cerita-cerita dalam Puisi Sepi Di Kampung Bugis Dalam membawa kita berkelana ke berbagai tempat yang dikunjungi, atau minimal dilintasi oleh Amir Jaya dan menjadi sumber inspirasinya. Membaca ceritanya, seakan melihat peristiwa yang terjadi.

 

Mungkin juga ini dipengaruhi oleh Amir Jaya yang berlatar belakang seorang jurnalis, sehingga kisah yang diwartakan terasa begitu hidup dan detail. Terkadang, membaca salah satu cerpen dalam kumpulan ini, seperti melihat lintasan pemandangan dari jendela angkot yang berjalan perlahan.

 

Seperti cerita Penjaga Malam ini, dialog dan narasi belum lagi terasa klimak, tahu-tahu cerita berhenti begitu saja. Seperti angkot yang tiba-tiba ngetem di pengkolan, menunggu penumpang. Begitupun cerita ini, menanti pembaca melanjutkan perjalananya, entah ke mana. Ujung cerita terasa seperti bifurkasi yang dibiarkan pecah tanpa arah.

 

Cobalah membaca cerpen berjudul Rumah Ibu (h.14) yang dipungkasi dengan kalimat pasrah, “Aku ikut prihatin, tapi hanya sekadar prihatin. Aku tak punya kuasa (h.18)”. Ini kan aneh sebetulnya. Kenapa? Karena rumah yang diperebutkan adalah rumah ibunya, ia punya hak untuk turut menentukan nasib rumah tersebut. Terlebih, cerita itu dituturkan olehnya.

 

Tapi demikianlah Amir Jaya, selalu melepas begitu saja ujung ceritanya, dan membiarkan pembaca menggerutu, ‘seharusnya begini’, ‘seharusnya begitu’, ‘kenapa tak begini?’, atau ‘mengapa tak begitu?’ Ia menyusun cerita yang bisa menjadi medium ekspresi dari beragam watak manusia dan hasrat yang selama ini tersembunyi.

 

Atau bacalah kisah Daeng Lallo dalam cerita Menghitung Waktu (h.34) . Di akhir cerita, Daeng Lallo terbaring tak berdaya usai punggungnya ditebas oleh remaja tanggung yang lagi tawuran di wilayah Maccini (salah satu daerah ‘Texas’ di tengah kota Makassar). Tak ada kelanjutan soal apa yang terjadi pada pelaku yang menebas Daeng Lallo.

 

Amir Jaya tak berpretensi menjadi hakim sosial yang memvonis bahwa tindakan remaja tanggung itu merupakan patologi, dan Daeng Lallo adalah pihak protagonis yang layak dibela. Amir Jaya malah mengakhiri ceritanya dengan kalimat ini, “Kini, Daeng Lallo terbaring di rumah sakit. Mungkin sedang menghitung waktu (h.38)”.

 

Seolah-olah, kisah yang dituturkan oleh Amir Jaya dalam cerita-ceritanya adalah pengalaman pribadi yang benar-benar dijalani olehnya, dan membaca karyanya adalah upaya menyusuri jejak langkah yang pernah dipijakkan oleh Amir Jaya di berbagai tempat yang pernah dikunjunginya: Kota Makassar, Kota Tarakan, hingga Kampung Bugis Dalam. Tak jarang, sampai ke lorong-lorong di Maccini Parang dan tepi jalan Sungai Saddang, Makassar.

 

Meski penulis telah memberi apologia Berawal dari Surat Cinta dan Imajinasi Liar (h.i) yang menjelaskan proses kreatif yang melambari lahirnya 20 judul cerpen ini, tetap saja kita bebas untuk menduga bahwa Amir Jaya seperti mencoba menyingkap rahasia perjalanannya secara malu-malu dan berlindung di balik setumpuk fiksi.

 

Nenek Mallomo, Hari Terakhir (h.29) menghadirkan aroma kisah nyata yang begitu menyengat, meski dibalut dramatisasi yang lembut. Kisah penarikan KKN yang menyisakan ‘cinta lokasi’ antara seorang mahasiswa dan gadis desa membuat kita yang membacanya, ikut bergumam, “Di perjalanan, akupun dikocok rindu. Rindu yang membuncah (h.33)

 

Cerpen Nenek Mallomo, Hari Terakhir seakan menjawab tanya yang dilontarkan sendiri oleh Amir Jaya dalam pembuka cerpennya yang berjudul Melukis Cinta (h.96). Pada kalimat pertama, Amir Jaya bertanya, “Melukis cinta? Apa cinta bisa dilukis? Bagaimana caranya? (h.96)” dan ia menjawabnya dengan sederhana, “Tentu ada caranya tersendiri! (h.96)”. Itu bila kita telah berteman dengan sunyi dan sepi.

 

Amir Jaya mengakui itu, dalam Puisi Sepi Di Kampung Bugis Dalam (h.68), ia menuliskan dengan liris:

Sunyi dan sepi adalah sahabatku

Yang setia menunggu dan menanti

Di lereng kampung bugis dalam

Setiap kuterjaga

Hanya engkau yang datang menyapa

Membisikkan kata-kata cinta

Yang tumbuh dan berakar

Di lereng-lereng bukit hatiku

Di puncak sunyiku

(h.68)

 

Judul: Puisi Sepi Di Kampung Bugis Dalam | Penulis: Muhammad Amir Jaya | Penerbit: De La Macca | Cetakan: Pertama, 2015 | Jumlah Halaman: xvii + 124 | ISBN: 978 602 263 076 0

 

Kasman McTutuFounder BukuKita.Net

Posting Komentar

Komentar Anda (0)

Lebih baru Lebih lama